fhany's blogsphere

not perfect, but limited edition ! Always try to be incredible !!!

6 Tanda Mood Swing (Efek PMS) Perlu Diwaspadai

Mood swing sering disebut sebagai salah satu efek samping premenstrual syndrome (PMS). Namun cobalah mengamati bagaimana pola mood swing kita ini. Apakah rasa mudah marah atau mudah menangis itu sudah mengganggu kehidupan kerja atau relasi dengan keluarga dan teman-teman? Bila ya, kemungkinan kita mengalami premenstrual dysphoric disorder (PMDD) atau gangguan disforik pramenstruasi. Dan jika gejala tersebut berlanjut bahkan setelah menstruasi lewat, bisa jadi hal ini merupakan suatu tanda depresi atau kelainan bipolar (rasa depresi muncul bergantian dengan rasa gembira).

PMDD sendiri memberikan kekacauan emosional yang sama dengan PMS, tapi seringkali lebih parah. Gangguan ini menyerang perempuan seminggu sebelum mulai mens, sama seperti PMS. Para pakar bahkan mengaitkan PMDD dengan insiden bunuh diri yang lebih tinggi pada perempuan.

Sebanyak 75 perempuan akan mengalami PMS dalam kadar ringan, dan hanya 5 persen yang mengalami gejala cukup parah sehingga mengarah pada PMDD, demikian menurut M. Beatriz Currier, MD, profesor bidang psikiatri klinis di University of Miami Miller School of Medicine. Belum diketahui apa penyebab pasti PMS atau PMDD, tetapi dengan waspada bahwa kita mungkin mengalami PMDD bisa membantu kita mengurangi efeknya. Kebanyakan perempuan menemukan cara untuk mengatasinya dengan mengubah pola makan, istirahat, dan olahraga.

Untuk mengetahui apakah mood swing yang kita alami masih normal atau sudah di luar batas, simak enam gejala berikut.

Gejalanya hanya emosional

Bila kita menghadapi PMS, kita juga akan mengalami gejala fisik seperti perut kembung, payudara nyeri, dan diikuti dengan gejala emosional seperti mood swing. “Jika gejala itu kebanyakan emosional, dan sangat mengacaukan hidup Anda, kemungkinan Anda mengalami PMDD,” ujar Patricia J. Sulak, MD, profesor kebidanan dan kandungan di Texas A&M Health Science Center College of Medicine, dan direktur program pendidikan seks remaja di Scott & White Clinic and Memorial Hospital, di Temple.

Mengalami depresi yang parah
Jika kita merasa sedikit down seminggu sebelum mens, namun merasa baik-baik saja sesudahnya, bisa dipastikan kita hanya mengalami PMS. Tetapi jika depresi pra menstruasi ini mengacaukan pekerjaan dan hubungan, ada kemungkinan PMDD yang jadi penyebabnya. Apalagi jika depresi itu tak juga hilang sepanjang bulan, mungkin kita sedang mengidap penyakit lain yang mendasar.

“Sebagian perempuan yang bilang, gejala itu benar-benar mustahil terjadi seminggu sebelum mens, tapi kalau kita mulai menggali informasi mengenai energi, nafsu makan, atau kondisi tidurnya, mereka akan bilang bahwa mereka tak pernah benar-benar kembali ke diri mereka yang lama,” ujar Dr Currier. “Hal itu bisa berarti pasien mengalami depresi mendasar yang bertambah parah selama masa pra menstruasinya.”

Mudah marah, gelisah, dan gampang menangis
Meskipun tidak mengalami depresi, adanya gejala seperti di atas bisa merupakan pertanda kita mengidap PMDD. Masalahnya, kita tidak tahu apakah gejala tersebut kadarnya normal atau tidak. Apalagi, saat kita menghadapi hari-hari yang begitu sibuk, kita juga sering merasa ucapan atau tindakan orang lain bisa sangat mengganggu.

Nah, kalau tingkat ketergangguan ini meningkat ke titik dimana kita akan menumpahkannya kepada keluarga atau rekan kerja, bisa jadi yang kitaa alami lebih dari sekadar PMS. Dan kalau merasa lebih cengeng daripada biasanya menjelang haid, kitaa tak perlu khawatir. Kecuali, kita terus menangis tanpa alasan tertentu.

Ada perasaan meluap-luap dan melebihi batas
Normal saja jika merasa kewalahan ketika harus membagi waktu, tenaga, dan pikiran. Namun ketika gelombang perasaan tersebut mengancam diri kitaa, bisa jadi itu gejala PMDD.

Sulit berkonsentrasi
Penurunan memori atau konsentrasi, seperti lupa menaruh kunci atau mengingat nama seseorang, biasa kita alami. Namun ketika gejala ini mulai mengacaukan hidup dengan serius, lebih baik kita berkonsultasi dengan dokter. “Perempuan yang mengidap PMDD biasanya mengatakan, ‘Aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan’. Tetapi mereka merasa itu hanya karena mereka tidak produktif saat ini,” ujar Dr Currier.

Durasi gejalanya
Apapun gejala yang kita alami, seharusnya sudah lenyap dalam sehari atau dua hari setelah kita menstruasi. Tetapi kita perlu bertanya pada dokter mengenai kemungkinan PMDD kalau gejala tersebut sudah sangat mengganggu, dan masih terjadi pada awal menstruasi kita berikutnya. “Gejala semacam itu umumnya menjadi masalah seminggu sebelum masa menstruasi, dan akan mereda pada hari kedua mens,” tukas Dr Currier. Ketika gejala yang kita rasakan tidak datang bersamaan dengan masa menstruasi, mungkin kita mengalami gangguan kecemasan. Saat itulah mungkin kita menghadapi PMDD.

Sumber: health

Januari 8, 2011 - Posted by | PreMenstrual Syndrome (PMS), Psikologi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: